Sidney Sheldon, The Best Selling Author

23 Apr

How I Know Sidney Sheldon

The Sky is Falling, itulah salah satu novel Sidney Sheldon yang pertama kali saya baca. Kakak saya yang merekomendasikan, “Itu novel ceritanya keren banget. Kamu kan suka  cerita detektif pasti kamu bakal suka juga cerita The Sky is Falling. Tokoh utamanya cewek, memang umumnya novel karya Sidney Sheldon tokoh utamanya cewek. Sidney Sheldon itu pengarang terkenal dunia loh”, perkataan kakak saya waktu itu berhasil meng-influence saya untuk mulai membaca The Sky is Falling. Thanks a Bunch, Kak!, karena ternyata The Sky is Falling’s really awesome.

Definitely, I really love the way Sidney Sheldon described everything on the story. Saya membaca The Sky is Falling secara terurut, halaman demi halaman tanpa melompat halaman. Salah satu ciri novel bagus versi saya adalah ketika saya membaca tidak menimbulkan sedikit pun niat untuk melompat halaman. Itulah yang menandakan serunya sebuah novel hingga saya tidak ingin merusaknya dengan mengetahui ending-nya terlebih dahulu. Sejak itulah saya langsung jatuh cinta pada si penulis, Sidney Sheldon, dan mulai membaca karya-karyanya yang lain.

Introducing Sidney Sheldon

Sidney Sheldon terlahir sebagai Sidney Schechtel, sulung dari pasangan Natalie Marcus dan Otto Schechtel, lelaki Chicago yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Kehidupan yang miskin dan sulit membuat Sheldon harus bekerja untuk menambah pendapatan keluarga. Ia ingin menjadi penulis dan telah menulis lusinan cerita pendek yang dikirimkannya ke berbagai majalah, tapi tidak pernah ditanggapi. Keadaan ini membuatnya depresi dan mencetuskan niat untuk bunuh diri. Saat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, Ayahnya memergoki. Lalu kemudian sang Ayah menasehati sehingga Sheldon menunda rencana bunuh dirinya. Saya katakan menunda disini, karena rencana bunuh diri berulang merasuki pikirannya ketika kerasnya kehidupan menerpa, tapi rencana ini tidak pernah terlaksana. Sheldon memang mengidap manik depresi atau sindrom bipolar yang sangat mungkin bersumber dari kehidupan berat pada masa kecilnya.

“Kau tak tahu apa yang bisa terjadi besok. Hidup seperti novel, kan? Penuh ketegangan. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi hingga kau buka halamannya, ” kata Otto. ” Setiap hari adalah halaman yang berbeda, dan setiap hari bisa penuh kejutan. Kau tak pernah tahu apa yang akan ada selanjutnya sebelum kau buka halaman itu.” Kemudian, “Kalau kau benar-benar ingin bunuh diri, aku mengerti. Tapi aku tidak suka melihatmu buru-buru menutup bukumu dan melewatkan kesenangan yang mungkin saja terjadi padamu di halaman selanjutnya –halaman yang akan kau tulis,” tambahnya.

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Ayahnya, bahwa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam kehidupan kita. Yang kita tahu adalah bahwa, Life is very precious. When you have a problem just believe that it can be solved. You just need to find the way for solving your problem. Remember, There’s God to help you everytime you need His hand.

His Career

Sheldon mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Universitas Northwestern. Sayangnya ia harus meninggalkan kuliah karena tuntuan kehidupan yang berat. Ia mencoba menulis lagu dan mengadu peruntungan ke New York untuk menjual lagu-lagu karyanya. Di New York inilah ketika bekerja sebagai penjaga dan tukang teriak bioskop untuk membiayai hidupnya, ia mengenal film. Setelah kegagalan demi kegagalan, akhirnya kesempatan datang menyapanya sehubungan dengan kemampuan musikalnya. Tapi ia malah meninggalkan New York dan kembali ke Chicago. Dari sana ia pergi ke Hollywood dengan hasrat menjadi penulis cerita film.

Diawali dengan bekerja sebagai pembaca cerita di Universal Studios kemudian Twentieth-Century-Fox, ia akhirnya berkecimpung di dunia film Hollywood dan di panggung Broadway. Di sini ia berjumpa berbagai manusia dengan aneka rupa karakter, termasuk tokoh-tokoh dunia perfilman terkenal seperti Kirk Douglas, Cary Grant, Patty Duke, Judy Garland, Fred Astaire, Frank Sinatra, Jane Wyman, Deborah Kerr, Doris Day, dan Cecil B. DeMille. Di sini juga ia menemukan dan sadar betapa rentannya sebuah popularitas dan hubungan baik. Selama berkarier di dunia glamor Holywood dan panggung Broadway ia telah menghasilkan 7 drama Broadway, 25 skenario film, dan beberapa acara televisi termasuk The Patty Duke Show dan Nancy

Sidney Sheldon’s First Novel

The Naked Face adalah novel pertama Sidney Sheldon yang terbit pada tahun 1970, saat ia berusia 53 tahun. Usia yang sudah terbilang cukup tua untuk memulai debut sebuah novel. The Naked Face, terjual sebanyak 3,1 juta copy. Ide cerita dalam The Naked Face muncul saat masa produksi serial televisi I Dream of Jeannie yang ia tangani. Ia mendapat gagasan cerita tentang seorang psikiater yang hendak dibunuh oleh seseorang padahal si Psikiater merasa tidak mempunyai musuh. Sheldon merasa gagasan ini terlalu introspektif sehingga memutuskan bahwa novel adalah media yang tepat untuk mencurahkannya. The New York Times menyebut The Naked Face sebagai “Kisah Misteri Pendatang Baru Terbaik Tahun Ini”.

Pada hari pertama peluncuran novel perdananya, The Naked Face, di Hotel Huntington, Pasadena, California, bersama empat penulis lain yang telah popular, hanya seorang wanita agak tua yang mau membeli bukunya. Namun kemudian ulasan-ulasan, termasuk di New York Times, membangkitkan semangatnya untuk menulis novel lain.

When you write a movie, you have a hundred collaborators. But when you write a novel, it’s yours. Writing novels is the most exciting.

Bagi Sidney Sheldon menulis novel berarti mengalami kebebasan kreatif yang tidak ia kenal sebelumnya ketika menulis skenario film, acara televisi, atau drama untuk teater. Menulis skenario film, acara televisi, dan drama akan selalu melibatkan pihak lain seperti pemain, sutradara, atau produser. Sedangkan sebagai novelis, ia bukan sekadar penulis, tapi juga pemain, produser, dan sutradara; dengan kata lain ia bebas mengeksplorasi gagasannya. Tidak ada yang membatasinya kecuali imajinasi.

Keseluruhannya, Sheldon telah menulis 18 novel dan 9 buku anak-anak. Tiga film dibuat berdasarkan novelnya (The Other Side of Midnight, Bloodline, dan The Naked Face), plus delapan film TV dan miniseri (Rage of Angels, Master of the Game, If Tomorrow Comes, Windmills of the Gods, A Stranger in the Mirror, Nothing Lasts Forever, The Sand of Time, dan Memories of Midnight). Semuanya sukses. Novel-novelnya terjual 300 juta eksemplar lebih di 108 negara dan diterjemahkan ke 51 bahasa. Pada tahun 1997, Guinness Book of World Records mencantumkan namanya sebagai Most Translated Author in the World (Penulis yang Karya-karyanya Paling Banyak Diterjemahkan di Dunia).

Sidney Sheldon, His Novel and The Readers

Tokoh utama novel-novelnya selalu perempuan-perempuan cantik namun tangguh di dunia lelaki yang kejam. Ia merupakan pencipta tokoh-tokoh fiktif yang sulit untuk dilupakan para pembaca bukunya, tokoh-tokoh yang bertaburan dalam plot yang sangat khas, berlangsung cepat, menukik pada tikungan-tikungan tajam sarat ketegangan.

If there is any secret to my success, I think it’s that my characters are very real to me. I feel everything they feel, and therefore I think my readers care about them.

I think that’s because believable action is based on authenticity, and accuracy is very important to me.

I always spend time researching my novels, exploring the customs and attitudes of the county I’m using for their setting.

I always spend time exploring the customs and attitudes of the countries I’m using for locations, and interviewing the people who live there. I’ve visited over 90 countries thus far.

Novel-novelnya memiliki plot cerdas dengan tingkat kejutan dan sensualitas tinggi untuk membuat para pembaca terus membalik halaman demi halaman. Sheldon telah menghasilkan novel-novel yang mengusung kisah hidup berbagai karakter utama ciptaannya, karakter-karakter ini memiliki perjuangan hidup sendiri yang biasanya lekat dengan intrik dan kekerasan serta mampu bertahan hidup untuk memenangkan pertarungan.

Selain itu Ia juga berusaha untuk membuat novelnya berkesan bagi para pembacanya.

Usually, when people get to the end of a chapter, they close the book and go to sleep. I deliberately write a book so when the reader gets to the end of the chapter, he or she must turn one more page.

Apresiasi dari pembaca adalah peran penting baginya.

The part of my writing I find the most rewarding is when people write to me or speak to me in public to tell me how his or her life has been changed by my books.

Ketika Ia sedang menikmati makan siang di sebuah Russian Tea Room di New York. Ada seorang wanita yang mendekatinya dan berkata bahwa alasannya menjadi seorang Pengacara adalah karena Ia membaca buku Rage of Angels. Sheldon pun sangat mengapresiasi apa yang diucapkan wanita tersebut.

To me, that kind of feedback has more meaning than any sales figures.

Why Sidney Sheldon Inspired Me?

Saya, terinspirasi untuk bisa menulis sebuah cerita fiksi dan menciptakan satu karakter yang sangat mengena dihati para pembaca. Dia berusaha mengajari apa arti mimpi dan bagaimana impian harus selalu diperjuangkan. Anything that is dreamable is also reachable, right?. Kehidupan masa lalu yang buruk membuatnya tetap berjuang meski ia mengidap manik depresi. Tidak ada batasan usia bagi seseorang untuk tetap terus berkarya. Kita hanya perlu terus berusaha, kegagalan adalah hal biasa dalam sebuah perjuangan. Yang terpenting adalah kita tidak boleh berhenti untuk berusaha. Don’t ever to stop your effort.

Don’t give up. There are too many nay-sayers out there who will try to discourage you. Don’t listen to them. The only one who can make you give up is yourself.

Memperingati hari bumi yang jatuh pada hari ini, ada satu pesan yang ingin disampaikan oleh Sidney Sheldon.

Try to leave the Earth a better place than when you arrived

Reference

Buku The Other Side of Me By Sidney Sheldon

http://en.wikipedia.org/wiki/Sidney_Sheldon

http://www.brainyquote.com/quotes/authors/s/sidney_sheldon.html

Gambar diambil dari sini dan sini.

P.S : Tulisan ini diikutsertakan untuk Words Share Contest, Inspirational Public Figures. Jika kamu suka dan terinspirasi oleh tulisan ini, mohon untuk berkomentar disini, atau sekedar memberikan jempol (Like)🙂

11 Responses to “Sidney Sheldon, The Best Selling Author”

  1. Triana 23/04/2010 at 1:17 pm #

    tulisan di Notes FB dipublish pada tgl 22 April 2010, bertepatan dgn Hari Bumi🙂

  2. ganangprakoso 23/04/2010 at 1:56 pm #

    akhrinya muncul juga di blog😛

  3. Asop 23/04/2010 at 8:00 pm #

    Wow…. Saya pikir Sidney Sheldon itu perempuan lho…😆
    Saya masih lebih suka novel detektif karangan Conan Doyle…😀
    Entah kenapa buku Sidney Sheldon dan Sandra Brown alurnya lambat buat saya.😐

  4. Cahya 24/04/2010 at 11:16 am #

    Dulunya saya pikir dia itu perempuan lho…😀
    Saya sendiri lebih suka karya Motohiro Katou😉

    • siti aminah 26/05/2012 at 7:28 am #

      iya tho,sy jg mikirnya gitu

  5. suzan 24/04/2010 at 6:03 pm #

    hohohoo… sama kayak Cahya, dulu kupikir dia cewek, hihihihi, mulai membaca bukunya di era zaman SPK (SMA) ditularin sama teman😀

  6. ika primastuti 01/05/2010 at 9:54 am #

    di indonesia pun nama cow kdg dipake buat cewek, begitu sebaliknya.. bagi yg mengkritik sheldon alurnya lambat, well.. setiap karya hebat pasti ga jauh dr kritikan…

  7. yani 05/05/2010 at 8:01 pm #

    aku suka banget novel2 Shidney Sheldon, sayang dia sudah tiada…

  8. Sitopatop 10/05/2010 at 9:02 am #

    jadi penasaran mau baca juga karya2nya..

    salam kenal. ^^

  9. Pinky 21/05/2010 at 7:53 pm #

    Novel karyanya yg pertama kali aq baca adalah If tomorrow comes. Gara2 kenalan ama turis jepang eh trus dkasi buku itu sbg tanda mata. Cuma karena tulisan huruf Jepang jadinya hunting dulu versi Indonya. Baru dech tau ceritanya.. Dan ceritanya emang Top Markotop!

Trackbacks/Pingbacks

  1. Canting Cantiq « My Words To The World - 04/05/2010

    […] Itu pun sudah lama sekali ketika saya masih SMA. Selanjutnya saya membaca novel metropop, novelnya Sidney Sheldon, dan novel lain yang bukan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: